9/21/12

Holy Mountain.



Sebenarnya saya gak seberapa suka naik gunung, entah kenapa awal september lalu kepikiran buat ke semeru. Mungkin gara gara nemu surat ucapan selamat ulang tahun buat ayah saya, beliau mantan ketua mapala unesa, seorang pendaki profesional, sampe sekarang tiap ulang tahun mantan organisasinya itu ngirim kartu ucapan buat beliau. Dengan pengalaman yang minim, akhirnya tekat dibulatkan, sebuah perjalanan napak tilas, perjalanan dari ketinggian 5dpl ke 2400dpl, dari 30 derajat ke -5 derajat celcius.





Perjalanan yang panjang ditempuh, sial bertubi-tubi, mulai dari motor mogok, kaki kram, sampai kedinginan setengah mati. FYI buat ke ranu kumbolo harus jalan kaki dari ranu pane, kendaraan bermotor cuman bisa sampe ke ranu pane, tapi sangat tidak disarankan!, mending sewa jeep atau naik truk sayur. Perjalanan dilanjutkan jalan kaki skitar 5 jam. Untungnya terbayarkan dengan lansekap ranu kumbolo yang aduhai. Sayangnya saking dinginnya sampe ga konsentrasi buat motret, tangan mengigil gemetar hebat, mencet shutter susah. Ya paling tidak saya belajar, alam bukan untuk ditaklukkan atau dikalahkan, tapi untuk dihayati, dipelajari dan dilestarikan.



8/25/12

laut.





Ketemu kru kapal yang sudah keliling dunia, ngobrol masalah seks sampe jam 2 pagi, mulai seks ala jepang sampe seks ala lebanon, 3 bersaudara yang ngeseks bareng, sampe koki kapal yang hobinya onani. Selebihnya ngobrol masalah bajak laut somalia. Kesimpulan yang saya dapat, terlalu lama di laut bikin orang stress berat.


4/29/12

parklife.









"we own the city"



4/1/12

living large.

Tak terasa hampir 4 tahun sudah hidup bersama orang2 ini, teman-teman sekampus saya, macam-macam manusia, penggemar pesta dan kericuhan. Sungguh membahagiakan. Ini adalah kontrakan kedua, sbnarnya saya bukan penghuni tetap disini, cuman numpang tidur kalau males pulang kerumah. Lebih luas dari tempat yang pertama, tapi tetap kacau dan berantakan. Bocor dikala hujan dan berubah menjadi neraka saat panas. Tapi bau kasur apek dan halaman depan yang kotor tetap menarik teman-teman untuk datang berkunjung. Semoga tuhan melindungi tempat bobrok ini.

goblok tapi bahagia


mirip kebun binatang tapi bahagia


pesta yang cukup meriah, walaupun hanya pizza dan coca cola. Cukup menyejukkan di malam yang hangat (panas!!) itu.

3/28/12

Learn! Practice!

nikon FE2, slr yang saya pakai sekarang

Saya kenal dunia fotografi sekitar akhir 2008, saat itu ayah saya beli sebuah kamera DSLR, dengan harapan bisa membantu tugas-tugas kuliah saya. Sejak itu saya mulai belajar berbagai aspek fotografi, termasuk teknik dan sebagainya, fotografi lanjut yang sebelumnya ga pernah saya tau. Yang saya tau dulu fotografi ya cuman masalah teknis dan estetis, ga ada aspek lain di balik itu. Setelah saya kuliah di jurusan yang banyak bersinggungan dengan dunia seni, saya punya banyak teman pelaku fotografi yang berasal dari berbagai macam aliran. Dari situ saya mulai penasaran, fotografi ternyata ga hanya teknis dan estetis, lebih dari semacam media ekspresi visual, lebih dari itu..

Akhir tahun 2009 saya mulai browsing, dan tertarik dengan kamera analog. Awalnya sama sekali ga tertarik karena dananya ga ada!! asuu!!. Kesalahan juga sih, lha waktu pertama saya browsing saat itu, saya liat situs jepang yang isinya leica, sama SLR analog mahal lainnya. Karena dsana kamera buka hanya sebagai media perekam, tapi juga dikalungkan di leher, dipake jalan-jalan, sebagai sebuah fashion statement!! Yah, bagaimanapun juga kamera yang kebeli saat itu hanyalah sebuah fujica m1 rongsokan, yang ternyata berhasil membawa saya bertemu orang-orang baru dan belajar banyak hal baru. Sejak itu saya cinta mati sama media dengan sensor seluloid-gelatin-kimiawi ini, menggantikan sensor binary-komputer-elektronik yang saya pakai.

Dari analog juga saya belajar fotografi lebih dalam, berbagai aliran yang saya ga pernah tau sebelumnya, mulai dari street, dokumentasi, etnografi, kontemporer, fine art dll. Saya juga mengamati fotografi dari sisi sejarah, mulai awal fotografi diciptakan. Dari situ saya menarik semacam kesimpulan, bahwa esensi fotografi sudah melenceng jauh dari awal dia diciptakan, baik ke arah positif maupun negatif, dari segi fungsi maupun teknis, dari hanya media seni visual menjadi sebuah penyebar tragedi, dari apapun juga. Belajar fotografi sebaiknya memang ga hanya dari teknis dan estetis, melainkan kajian menyeluruh dari semua aspek terkait. Tapi kembali ke kita juga sih mau jadi fotografer seperti apa..

"every tool is a weapon - if you hold it right" -Ani DiFranco

3/24/12

erotic plastic.




everyday carry.




weapons of choice.
barang barang yang selalu saya bawa, di dalam tas kecil saya

3/21/12

lombok, indonesia









piknik bersama keluarga ohh indahnya..